
1. Apakah Gigi yang Dicabut Harus Diganti?2. Dampak Jika Gigi Dicabut dan Tidak Diganti1. 1. Pergeseran Gigi di Sekitarnya2. 2. Penurunan Tulang Rahang (Resorpsi Tulang)3. 3. Gangguan Fungsi Mengunyah4. 4. Gangguan Bicara5. 5. Dampak Psikologis dan Kepercayaan Diri3. Pilihan Penggantian Gigi yang Tersedia4. Pandangan Islam tentang Menjaga Kesehatan Gigi5. Kesimpulan1. Referensi Ilmiah
Kehilangan gigi bukan hanya soal penampilan. Dalam dunia kedokteran gigi, satu gigi yang dicabut dan dibiarkan kosong bisa memicu rangkaian masalah kesehatan mulut hingga kesehatan tubuh secara umum. Banyak pasien mengira bahwa jika sudah tidak sakit, maka masalah selesai. Padahal, justru setelah pencabutanlah risiko jangka panjang bisa dimulai.
Apakah Gigi yang Dicabut Harus Diganti?
Secara medis, iya — gigi yang dicabut sebaiknya diganti, kecuali dalam kondisi tertentu yang memang dipertimbangkan oleh dokter gigi. Gigi bukanlah organ yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem kunyah yang saling menopang. Ketika satu gigi hilang, keseimbangan sistem ini terganggu.
Dampak Jika Gigi Dicabut dan Tidak Diganti
1. Pergeseran Gigi di Sekitarnya
Gigi memiliki kecenderungan alami untuk bergerak. Ketika ada ruang kosong, gigi sebelahnya dapat miring ke arah ruang tersebut, sementara gigi lawannya bisa tumbuh memanjang (over-erupsi). Hal ini dapat menyebabkan:
- Susunan gigi menjadi berantakan
- Sulit membersihkan gigi
- Risiko karies dan penyakit gusi meningkat
2. Penurunan Tulang Rahang (Resorpsi Tulang)
Akar gigi berfungsi menstimulasi tulang rahang saat mengunyah. Jika gigi hilang:
- Tulang rahang di area tersebut akan menyusut secara perlahan
- Bentuk wajah bisa berubah (terlihat lebih cekung atau “menua”)
- Menyulitkan pemasangan gigi tiruan di kemudian hari
3. Gangguan Fungsi Mengunyah
Kehilangan satu gigi saja bisa mengubah pola mengunyah. Akibatnya:
- Beban kunyah tidak merata
- Otot rahang bekerja tidak seimbang
- Muncul nyeri rahang atau gangguan sendi rahang (TMJ)
4. Gangguan Bicara
Terutama pada gigi depan, kehilangan gigi dapat memengaruhi artikulasi huruf tertentu sehingga bicara menjadi kurang jelas.
5. Dampak Psikologis dan Kepercayaan Diri
Gigi yang hilang, khususnya di area depan, sering membuat seseorang:
- Menjadi kurang percaya diri saat tersenyum atau berbicara
- Menghindari interaksi sosial tertentu
Pilihan Penggantian Gigi yang Tersedia
Dokter gigi akan menentukan pilihan terbaik sesuai kondisi pasien:
- Gigi Tiruan Lepasan Lebih terjangkau, namun kenyamanan dan stabilitas terbatas.
- Jembatan Gigi (Dental Bridge) Mengandalkan gigi sebelah sebagai penyangga.
- Implan Gigi Menyerupai gigi asli karena menggantikan akar dan mahkota gigi, serta membantu mencegah penyusutan tulang.
Pemilihan metode harus melalui pemeriksaan menyeluruh, termasuk kondisi tulang, gusi, serta kesehatan umum pasien.
Pandangan Islam tentang Menjaga Kesehatan Gigi
Dalam Islam, menjaga kesehatan termasuk bagian dari mensyukuri nikmat Allah. Rasulullah ﷺ sangat menekankan kebersihan dan perawatan gigi, sebagaimana dalam sunnah bersiwak. Upaya mengganti gigi yang hilang bukanlah bentuk berlebihan, melainkan ikhtiar menjaga fungsi tubuh agar tetap optimal untuk beribadah dan beraktivitas.
Kesimpulan
Gigi yang dicabut tidak seharusnya dibiarkan kosong tanpa pertimbangan medis yang jelas. Dampaknya bukan hanya pada mulut, tetapi juga struktur wajah, fungsi makan, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. Konsultasi dengan dokter gigi, khususnya dokter gigi spesialis prostodonsia, sangat dianjurkan untuk menentukan solusi terbaik sejak dini.
Referensi Ilmiah
- Misch CE. Dental Implant Prosthetics. Mosby Elsevier; 2015.
- Schropp L, et al. Bone healing and soft tissue contour changes following single-tooth extraction. J Clin Periodontol. 2003.
- Tallgren A. The continuing reduction of the residual alveolar ridges in complete denture wearers. J Prosthet Dent. 1972.
- World Health Organization. Oral Health Fact Sheet. WHO; 2022.
Penyusun:
Tim Edukasi Muslimedika













